Work

About Human Capital..

Manusia di dalam industri, perusahaan, atau organisasi menghadapi dilema besar. Pada dasarnya mereka dibutuhkan, karena tanpa manusia, tentu suatu usaha susah dijalankan. Usaha apapun, baik yang terkait dengan urusan sosial dan amal, hingga pencapaian profit, membutuhkan manusia.

Memang dengan bantuan teknologi, jumlah manusia yang diperlukan lebih sedikit daripada di usaha padat tenaga kerja. Namun tetaplah perlu ada manusia yang diandalkan.

Seringkali kita membaca ada nama-nama bagus yang dilekatkan dengan mereka. Manusia adalah aset, katanya. Human capital, adalah nama yang menggantikan istilah HR – sumber daya manusia. Perubahan itu pasti didasari filosofi mulia.

Namun, apakah benar pada kenyataannya, si manusia benar-benar diberdayakan, mengingat mereka sesungguhnya adalah bagian yang penting dari suatu usaha, bahkan yang terpenting, di samping produk usaha itu sendiri? Ataukah manusia yang ada dianggap kerugian, mengurangi keuntungan usaha saja?

Seringkali tenaga mereka diperas habis-habisan, tanpa ada keseimbangan imbal jasa. Ini bukan sekadar urusan gaji atau take home payment. Akan tetapi berkaitan dengan berapa banyak investasi yang siap digelontorkan untuk memberdayakan modal manusia ini? Ataukah manusia hanya dianggap sebagai mesin hidup yang kalau dikeluarkan uang lebih untuknya berarti pemborosan?

Coba saja tanyakan ke bagian training, berapa dana yang tersedia untuk melatih manusia-manusia ini, bukan saja dari sisi hardskill tetapi juga dari aspek softskill-nya? Makin besarkah dananya? Makin kecilkah? Sama sajalah dari tahun ke tahun?

Jikalau manusia adalah aset, manusia adalah modal, manusia adalah penting, pemberdayaan mereka seharusnya menjadi prioritas. Manusia yang loyal dan berkomitmen tinggi di dalam suatu usaha masih dimungkinkan keberadaannya, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Terimakasih kepada sejumlah organisasi yang memiliki kepedulian yang sama dengan saya dan berfilosofi serupa mengenai manusia di dalam organisasi. Semoga kerjasama di antara kita terus berlanjut dan berkembang, meluas, demi kemanusiaan yang transformatif di Indonesia.

(c) Henny Wirawan, September 2017

twitterlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *